true story : Aku menangis untuk adikku 6 kali..

Well, ini cerita yang aku dapet waktu browsing di google. Lupa link, gomen pisan 😥 . kisah yang menyentuh hati 😥 semoga bermanfaat.

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, karena ingin membeli sapu tangan yang dimana semua gadis di sekitarku memilikinya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah sehingga ia terus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi adikku, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku menangis meraung-raung. Tapi Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mau mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi peristiwa tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak akan pernah lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun dan Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus seleksi untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya bergumam, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku.”
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul wajah adikku. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu sangat lemahnya? Bahkan jika berarti ayahmu ini mesti mengemis di jalanan aku akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!”
Setelah berkata seperti itu, ia mengetuk setiap rumah di dusun untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, maka kita tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Dan saat itu aku pun telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:”Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegangi kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan dengan uang yang dihasilkan adikku dari mengangkut semen di lokasi konstruksi, aku bisa mencapai tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, lalu teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku penasaran dan melihat keluar, lalu aku melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu semua debu-debu itu dari adikku, dan berkata dengan tercekat, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Lalu, dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, lalu berkata, “Aku lihat semua gadis kota memakainya. Jadi, kupikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku, menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Waktu pertamakali aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan semua kelihatan bersih. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”
Tetapi, sambil tersenyum ia berkata, “semua itu adalah adikmu yang melakukan, ia pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sudah berulangkali aku dan suamiku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, ai berkataka, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, ketika adikku berada diatas sebuah tangga untuk memperbaiki kabel, ia mendapat sengatan listrik dan masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, ini luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang terpatah-patah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”
Tanpa berpikir ia menjawab, “Kakak saya.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah itu berada di dusun yang berbeda. Setiap hari saya dan kakak saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan sebelah sarung tangan. Kakak saya memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai sebelah saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya sangat gemetar karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakak saya dan selalu baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
dan aku berkata, Kata-kata dengan susah kuucapkan keluar daribibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku terimakasihi adalah adikku.” Dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku.

Advertisements

15 Responses to true story : Aku menangis untuk adikku 6 kali..

  1. Eru says:

    Brrr.. merinding 😀

    good story… good story

  2. Novi~Atrix says:

    da pernah baca jengz dulu masih smp di bulletin buku agama w 😀
    ceritanya mmg menarik 😀

  3. saKuZo says:

    iya neeh emg cerita lama kyknya, tapi aku suka jadi kupajang.
    kerennya nih kalo punya adik yang kayak gini *lirik adek yang lagi males malesan main PS*

  4. Wuah…
    Mengharukan..
    Bikin merinding..
    Aku nangis..


    Nggak tau mau komen apalagi, cerita ni bagus sekali!

  5. Sudah berapa kali baca ini…

    Anyway, such a good story.

  6. saKuZo says:

    @ sahara : thx for visiting ^^, iya nih emg mengharukan bgt TT3TT
    @ adriano, yup, waktu itu kan lagi buka2 files lama di kompu, eh nemu, akhirna dipost dh 😀

  7. Duddin says:

    Minta link aslinya doonkkk

  8. saKuZo says:

    @ duddin : knapa km ikt terharu dud ??
    😆
    aku dah lupa linknya, cz udah lama bgt, pas kmaren2 buka file2 ms word yang ada di folder tugas, eh ada cerita ini, nyasar gt lol. tpnya jd kepikiran bwt dipost di my blog wkwkwk

  9. ariefdj™ says:

    wahh….so kewl.. bagus banget ceritanya.. alurnya juga…. ada pesan moral-nya, yaitu suatu tindakan membantu orang lain jika dilakukan dengan ikhlas, akan mendapatkan kebaikan juga pada akhirnya, berkali-kali lipat..

  10. ariefdj™ says:

    maap, lupa nih.. saia numpang mampir, tadi ‘nemu’ link ini saat gogling lagu ‘We will not go down’ … salam kenal..

  11. h1mithzu says:

    bnr..bnr mengiris bgt! tapi zaman skg ga ad spt itu… 1:10000….. aja. andai bisa…

  12. Anna says:

    Gud story !
    Bnr2 brmakna !
    Smpai trharu membc.y .

  13. *ngebayangin Fiq2 ato Nia jadi gini*

    ah, ga mungkin..
    *berlalu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: